MEDIA DAKWAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah: Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu: Mas’udi, S.Fil.I, MA,
Disusun Oleh:
1.
Hasanul
falah muhammad (1740210052)
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
JURUSAN DAKWAH DAN KOMUKIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dakwah merupakan kegiatan yang mempunyai karakteristik
tersendiri, yaitu khusus berisi pesan berupa anjuran atau seruan tentang
al-khyar, amar ma`ruf dan nahi munkar. Isi pesan yang berada di dalam dakwah
itu bersumber dari wahyu Tuhan untuk menunjukan bahwa dakwah merupakan fenomena
Agama yang tercakup dalam study Islam.
Dakwah juga mempunyai materi-materi yang di dalamnya
menjelaskan tentang kandungan-kandungan dakwah yang akan di sampaikan seorang
da`i dan juga menjelaskan tentang bagaimana proses berdakwah menurut
tingkatannya.
Berkenaan dengan materi-materi dakwah , dakwah bukan
hanya di sampaikan secara langsung kepada orang muslim. Di era zaman sekarang
ini teknologi sudah semakin canggih sehingga memudahkan para da`i untuk dakwah
menggunakan teknologi sesuai dengan situasi dan kondisinya sehingga akan mudah
bagi orang muslim mendapatkan ilmu dari media. Dengan menggunakan media akan
mendorong orang muslim untuk menyiarkan Agama dan ini akan membawa dampak
positif khalayak terhadap penggunaan media untuk berdakwah. Menyimak dari
pernyataan di atas, Penulis perlu mengangkat judul “Materi dan Media Dakwah”.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa yang di maksud dengan media?
2. Ada berapa macam media yang digunakan untuk berdakwah?
3. Islam dan media indonesia
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari dakwah.
2. Untuk mengetahui pengertian dari media.
3. Untuk mengetahui media apa saja yang digunakan untuk
berdakwah.
4. Mengetahui Islam dan media indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian Media
Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak
dari Medium yang secara harfiah berarti perantara atau
pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke
penerima pesan.
Banyak batasan yang
diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan
(Association of Education and Communication Technology/AECT) di Amerika,
membatasi media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk
menyalurkan pesan/informasi.[2]
- Macam-Macam Media yang
digunakan untuk Berdakwah
Dakwah akan sukses
apabila menggunaka bermacam-macam media sesuai situasi dan kondisi. Sedangkan
media yang dapat dipergunakan sebagai berikut:
- Mimbar
Mimbar merupakan
media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun
masyarakat perkotaan. Mimbar bisa digunakan pada saat khutbah Jum`at, Idul
Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian besar Islam lainnya baik di
masjid-masjid kampung maupun di kota, bahkan di hotel-hotel atau di
gedung-gedung. Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama`ah
dapat lebih fokus pada sutu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi
dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada
jama`ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar
masjid, dengan tujuan agar jamah yang ada diluar masjid tetap dapat melihat
yang berkhutbah. Model mimbar ada dua macam, yaitu:
- Mimbar bertangga (terbuka),
biasanya yang berkhutbah membawa tongkat.
- Mimbar tidak bertangga
(terbuka), biasanyapun yang berkhutbah tidak membawa tongkat.
- Media cetak
Media cetak pada era
sekarang telah bermunculan, bagaikan buah rambutan yang sedang berbuah, baik
itu majalah, koran, ataupun buletin-buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud
nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan. Oleh sebab itu, alangkah
baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada
sebagai sarana untuk berdakwah. Melihat persaingan media cetak yang begitu
hebat, maka para muballigh hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi
penulis-penulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma`ruf nahi munkar di
bidang media cetak. Mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup
banyak peminatnya. Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada
keterbukaan dan kebebasannya. Dan inilah problem besar bagi para pelaku dakwah
selama ini.
- Radio
Radio adalah siaran
atau pengiriman suara atau bunyi melalui udara. Segala sesuatu dapat disiarkan
melalui radio, seperti berita, musik, pidato, puisi, drama, dan dakwah yang
dapat didengar oleh masyarakat.
Siaran radio dapat
diterima atau didengar bukan hanya oleh yang berpendidikan tinggi saja, tetapi
oleh orang yang berpendidikan rendah. Radio mendapat banyak khalayak, terutama
karena radio lebih banyak menghidangkan hiburan dan informasi yang aktual.[3]
Radio merupakan media
informasi yang hingga sekarang nasih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat
radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat di bawa
kemana-mana. Oleh sebab itu, alangkah bermanfaatnya jika radio penuh dengan
siaran-siaran yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta
meninggalkan keburukan (amar ma`ruf nahi munkar). Pesawat radio sering kali
kita jumpai semalam suntuk di warung-warung kopi,pos-pos jaga serta
mobil-mobil. Bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil
menunggu penumpang. Oleh sebab itu, alangkah bermanfaatnya jika radio-radio
yang diputar selalu membawa pesan-pesan dakwah.
Para da`i atau
muballigh dapat menyiarkan secara lengkap ceramah agama, khutbah saat sholat
jum`at atau khutbah hari raya dua secara langsung ketika peristiwa berlangsung.
- Film
Film dikenal juga
dengan nama “gambar hidup” atau “wayang gambar”. Film dapat memberikan pengaruh
yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang menyaksikannya. Disaat sedang
menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai
indentifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi,
penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang
pemeran film. Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang
menontonnya,maka alangkah besarnya manfaat film itu, jika dijadikan sebagai
media untuk berdakwah.
- Televisi
Televisi adalah media
penyiaran yang serumpun dengan radio. Jika radio hanya menyiarkan suara, maka
televisi mampu menyalurkan suara dan gambar sekaligus, sehingga televisi dapat
dipandang sebagai penggabung film dan radio. Televisi untuk menjadi media
dakwah, atau menyalurkan pesan-pesan dakwah. Hal ini telan banyak dilakukan di
Indonesia. Pada umumnya lembaga penyiaran televisi di Indonesia menyediakan
waktu kegiatan dakwah, seperti adzan maghrib atau acara-acara khusus pada bulan
ramadhan dan lain-lainnya. Televisi juga dapat bermanfaat sebagai media yang
menyajikan dialog-dialog tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh umat
Islam.[4]
Televisi merupakan
media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai di mana-mana, baik
di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di
restoran. Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral.
Televisi juga
merupakan media audio-visual, yang juga seing disebut sebagai media pandang
dengar. Maksudnya, selain televisi dapat kita dengar juga bisa kita lihat
secara langsung. Oleh sebab itu, alang besarnya jika televisi itu lebih banyak
menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah pemirsa dari kondisi yang tidak
baik menjadi kondisi yang lebih baik.
- Celluler
Celluler merupakan
media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu
banyaknya pemakai celluler, mulai dri pengusaha kelas atas hingga pengusaha
kelas bawah. Bahkan tidak sedikit para remaja dan pengangguranpun
menggunakannya. Melihat begitu semaraknya celluler, alang besar manfaatnya jika
celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah. Yaitu dengan memanfaatkan
fasilitas Multimedia Messaging Service(MMS) sebagai media untuk
mengirim pesan-pesan normatif. Dengan ber-MMS kita dapat berdakwah dengan biaya
murah.
- Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan
merupakan sarana dalam rangka memberi pemahaman yang sempurna dan mendalam
dalam masalah ajaran agama Islam, dan membina kader da`i yang betul-betul paham
dan mengajarkan ajaran dengan lengkap, baik secara teori maupun secara praktek,
mulai tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Di Indonesia banyak da`i
yang berdakwah melalui lembaga pendidikan. Misalnya pondok pesantren atau
sekolah-sekolah agama Islam, terutama lembaga formal yang berada di bawah
naungan Departemen Agama.
- Organisasi keagamaan
Organisasi merupakan
sarana memperjuangkan agama Islam, karena dapat memperjuangkan ajaran Islam
secara terpogram dan sistimatis serta dapat menjangkau yang lebih leluasa. Di
Indonesia berjuang melalui organisasi sangat efektif, karena dapat
memperjuangkan hak-hak umat Islam dan dapat mempertahankan ajaran Islam sacara
terorganisir, misalnya Nahdhatul Ulama`,Muhammadiyah dan Matla`ul Anwar.
- Partai Politik
Islam tidak akan bisa
dilaksanakan secara kaffah (sempurna dan menyeluruh) tanpa
mendirikan negara yang berdasarkan Islam. Sedangkan negara Islam tidak akan
dapat didirikan tanpa menguasai parlemen, karena parlemen sebagai sarana
membuat undang-undang dan peraturan pemerintah yang berdasarkan al-Qur`an dan
Hadits. Sedangkan parlemen bisa dikuasai melalui partai politik. Maka oleh
karena itu, salah satu sarana memperjuangkan ajaran Islam adalah melalui partai
politik. Partai politik tidak akan mampu memperjuangkan ajaran Islam di
parlemen, apabila visi dan misinya tidak berdasarkan Islam dan kader-kadernya
tidak dididik secara Islami.
lagi, dari budaya sosial yang mereka miliki
ini, masyarakat penuh keberanian untuk merawat ayam-ayam jago petarung dengan
harga-harga yang sangat fantastis. Mulai dari harga lima puluh ribu rupiah
sampai harga satu juta lima ratus ribu rupiah, mereka berani untuk tetap memiliki
binatang peliharaan ini.
Sebuah keunikan lain yang bisa diamati dari
kehidupan masyarakat Desa Jepang dengan budaya sosial yang berkembang di
tengah-tengah kehidupan mereka adalah kesadaran keagamaan dan keberagamaan yang
perlu mereka hadirkan dan upayakan eksis dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Agama bagi kehidupan mereka masih menduduki tingkat sekunder atau bahkan
tingkat paling rendah dari realitas kehidupan keagamaan dan keberagamaan
masyarakat. Masyarakat masih belum memiliki tingkat kesadaran keagamaan dan
keberagamaan yang tinggi guna menjadikan ketertataan hidup mereka lebih baik.
Dinamika dari kondisi ini sebenarnya dapat diamati dari struktur kehidupan
masyarakat Desa Jepang yang masih tergolong pragmatik dalam pemenuhan struktur
kehidupan mereka. Ekonomi menjadi basic need absolut dengan kesadaran
perolehannya yang berhaluan positivistik. Secara otomatis pula, kondisi ini
menggiring mereka untuk menomorduakan agama dari realitas kehidupan. Agama
belum dihadirkan oleh mereka sebagai salah satu sebab yang bisa mendukung nilai
keberhasilan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan.
A. Islam
dan media indonesia
Dakwah sebagai media pembentuk kepribadian (self personality)
dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi
yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang
progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan
media dan strategi dakwah yang kompeten. Seiring dengan munculnya
ragam media dan strategi dakwah, eksistensi jurnalistik hadir sebagai
salah satu media komunikasi produktif. Di samping strategi dakwah
yang telah umum common sense dilakukan, kehadiran jurnalistik menjadi
media kontemporer yang dapat menyeimbangi perkembangan zaman
globalization yang semakin pesat. Kehadiran media jurnalistik dalam
dinamika kehidupan manusia menjadi fakta yang tidak terelakkan.
Eksistensi jurnalistik sebagai media utama penyajian komunikasi
dalam kehidupan umat manusia memiliki peranan yang signifian. Realita
ini dapat dilihat pada pencapaian kemerdekaan Indonesia. Beberapa
pejuang kemerdekaan Indonesia menggunakan jurnalisme sebagai alat
perjuangan. Di zaman penjajahan Belanda, beberapa media jurnalistik
terbit mengiringi jalannya perjuangan, seperti Bintang Timoer, Bintang
Barat, Java Bode, dan Medan Prijaji. Ketajaman eksistensi jurnalistik
semakin menguat ketika zaman pendudukan Jepang. Beberapa media
jurnalistik yang telah lama hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia
dilarang peredarannya. Akan tetapi, pada akhirnya ada lima media yang
AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam 217
Peranan Media Dalam Membentuk Sosio-Kultur dan Agama Masyarakat
mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari,
dan Suara Asia. Zaman Orde Baru pun memberikan potret yang
tajam atas peranan media jurnalistik terhadap kebijakan pemerintah.
Besarnya ancaman yang dimunculkan oleh eksistensi media jurnalistik
mengakibatkan dibredelnya beberapa surat kabar nasional, di antaranya;
Harian Indonesia dan Majalah Tempo.
Sejarah panjang Agama Islam pun memiliki kesinambungan
kuat atas eksistensi jurnalistik. Zaman Nabi Nuh As., adalah potret
pertama eksistensi jurnalisme Islam. Untuk mengetahui kondisi air
bah di sekeliling perahu, Nabi Nuh As., mengutus seekor Burung Dara
guna meneliti keberadaannya. Dari informasi Burung Dara tersebut,
disampaikannya berita tentang alam sekitar perahu. Potret jurnalisme
zaman Nabi Nuh As., tersebut dijadikan world view eksistensi jurnalistik.
Berdasarkan analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya,
jurnalistik Islam adalah suatu aktivitas yang terdiri dari proses meliput,
mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa (berita) ataupun
pendapat (ide, gagasan, opini) dengan muatan nilai-nilai keislaman
(kedakwahan) dengan didasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik/
norma-norma yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah
SAW.
Berpijak kepada eksistensi jurnalistik di atas, secara nyata
(de facto) jurnalistik diwujudkan untuk memberikan sumbangan
utama atas tatanan informasi kehidupan manusia. Kehadirannya di
masyarakat menjadi ruh yang tidak dapat dinisbikan dari dinamika
kehidupan. Secara hakiki, pesatnya arus globalisasi (globalization
movement) menuntut segenap generasi muda dan tua Indonesia untuk
menyongsongnya dengan cakrawala informasi dan teknologi yang
semakin luas. Perwujudan ini tidak mungkin dicapai secara sempurna
tanpa realisasi sinergis antara semua elemen bangsa. Pada dataran
inilah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dan Sekolahsekolah Menengah dan Atas umumnya memiliki peranan signifian
guna mencetak generasi bangsa yang memiliki kompetensi pada setiap
unsur kehidupan berbangsa dan bernegara. Kompetensi yang memuat
218 Volume 1, Nomor 2, Juli – Desember 2013
Mas’udi
keterampilan sempurna diimbangi dengan penguasaan teknologi, seni,
budaya, dan nilai-nilai keberagamaan (tadayyun).
Besarnya peranan instansi pendidikan dalam membentuk
generasi bangsa yang berwawasan luas, dituntut untuk menyajikan
nuansa pembelajaran efektif di tengah-tengah pesatnya laju globalisasi.
Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang komunikasi dan
informasi (communication and information technology), membuat dunia terasa
makin sempit dan nyaris tak ada lagi ruang kosong yang tak terjamah
dan tersentuh oleh teropong informasi teknologi (information technology).
Kenyataan ini tentu saja menghendaki kehadiran jurnalis-jurnalis tangguh
yang mampu menghadirkan informasi, berita, atau tulisan-tulisan yang
bernuansa keislaman, melalui pemanfaatan dan rekayasa yang baik
terhadap berbagai hasil kemajuan teknologi informasi terutama media
cetak (buku, majalah, buletin, atau surat kabar) guna mendukung
transformasi visi dan misi Islam. Pengenyampingan atas semua persepsi
ini dapat menjadikan umat Islam terbawa dalam objek informasi yang
bersifat negatif. Di atas semua alasan itulah, upaya-upaya pemanfaatan
teknologi pers dan pematangan kemampuan menulis jurnalis Muslim
khususnya dan umat Islam umumnya, dalam rangka dakwah dan
transformasi nilai-nilai ajaran Islam menjadi suatu keharusan. Tuntutan
tersebut ditujukan untuk mengantisipasi agar umat tidak melek dan gagap
terhadap teknologi informasi (information technology IT).
Peranan pers dalam membentuk tatanan kehidupan masyarakat,
baik pada skala kolektif dan personal semakin gencar dipublikasikan.
Dunia jurnalistik gencar disoroti untuk memberikan proyeksi berita yang
berhaluan kepada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Pada konteks
inilah, generasi muda bangsa memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan
semangat para jurnalis muslim yang menjadikan jurnalistik Islam sebagai
ideologi dalam profesinya, baik mereka yang bekerja pada media massa
umum dan terlebih-lebih lagi pada media massa Islam.
dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi
yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang
progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan
media dan strategi dakwah yang kompeten. Seiring dengan munculnya
ragam media dan strategi dakwah, eksistensi jurnalistik hadir sebagai
salah satu media komunikasi produktif. Di samping strategi dakwah
yang telah umum common sense dilakukan, kehadiran jurnalistik menjadi
media kontemporer yang dapat menyeimbangi perkembangan zaman
globalization yang semakin pesat. Kehadiran media jurnalistik dalam
dinamika kehidupan manusia menjadi fakta yang tidak terelakkan.
Eksistensi jurnalistik sebagai media utama penyajian komunikasi
dalam kehidupan umat manusia memiliki peranan yang signifian. Realita
ini dapat dilihat pada pencapaian kemerdekaan Indonesia. Beberapa
pejuang kemerdekaan Indonesia menggunakan jurnalisme sebagai alat
perjuangan. Di zaman penjajahan Belanda, beberapa media jurnalistik
terbit mengiringi jalannya perjuangan, seperti Bintang Timoer, Bintang
Barat, Java Bode, dan Medan Prijaji. Ketajaman eksistensi jurnalistik
semakin menguat ketika zaman pendudukan Jepang. Beberapa media
jurnalistik yang telah lama hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia
dilarang peredarannya. Akan tetapi, pada akhirnya ada lima media yang
AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam 217
Peranan Media Dalam Membentuk Sosio-Kultur dan Agama Masyarakat
mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari,
dan Suara Asia. Zaman Orde Baru pun memberikan potret yang
tajam atas peranan media jurnalistik terhadap kebijakan pemerintah.
Besarnya ancaman yang dimunculkan oleh eksistensi media jurnalistik
mengakibatkan dibredelnya beberapa surat kabar nasional, di antaranya;
Harian Indonesia dan Majalah Tempo.
Sejarah panjang Agama Islam pun memiliki kesinambungan
kuat atas eksistensi jurnalistik. Zaman Nabi Nuh As., adalah potret
pertama eksistensi jurnalisme Islam. Untuk mengetahui kondisi air
bah di sekeliling perahu, Nabi Nuh As., mengutus seekor Burung Dara
guna meneliti keberadaannya. Dari informasi Burung Dara tersebut,
disampaikannya berita tentang alam sekitar perahu. Potret jurnalisme
zaman Nabi Nuh As., tersebut dijadikan world view eksistensi jurnalistik.
Berdasarkan analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya,
jurnalistik Islam adalah suatu aktivitas yang terdiri dari proses meliput,
mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa (berita) ataupun
pendapat (ide, gagasan, opini) dengan muatan nilai-nilai keislaman
(kedakwahan) dengan didasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik/
norma-norma yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah
SAW.
Berpijak kepada eksistensi jurnalistik di atas, secara nyata
(de facto) jurnalistik diwujudkan untuk memberikan sumbangan
utama atas tatanan informasi kehidupan manusia. Kehadirannya di
masyarakat menjadi ruh yang tidak dapat dinisbikan dari dinamika
kehidupan. Secara hakiki, pesatnya arus globalisasi (globalization
movement) menuntut segenap generasi muda dan tua Indonesia untuk
menyongsongnya dengan cakrawala informasi dan teknologi yang
semakin luas. Perwujudan ini tidak mungkin dicapai secara sempurna
tanpa realisasi sinergis antara semua elemen bangsa. Pada dataran
inilah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dan Sekolahsekolah Menengah dan Atas umumnya memiliki peranan signifian
guna mencetak generasi bangsa yang memiliki kompetensi pada setiap
unsur kehidupan berbangsa dan bernegara. Kompetensi yang memuat
218 Volume 1, Nomor 2, Juli – Desember 2013
Mas’udi
keterampilan sempurna diimbangi dengan penguasaan teknologi, seni,
budaya, dan nilai-nilai keberagamaan (tadayyun).
Besarnya peranan instansi pendidikan dalam membentuk
generasi bangsa yang berwawasan luas, dituntut untuk menyajikan
nuansa pembelajaran efektif di tengah-tengah pesatnya laju globalisasi.
Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang komunikasi dan
informasi (communication and information technology), membuat dunia terasa
makin sempit dan nyaris tak ada lagi ruang kosong yang tak terjamah
dan tersentuh oleh teropong informasi teknologi (information technology).
Kenyataan ini tentu saja menghendaki kehadiran jurnalis-jurnalis tangguh
yang mampu menghadirkan informasi, berita, atau tulisan-tulisan yang
bernuansa keislaman, melalui pemanfaatan dan rekayasa yang baik
terhadap berbagai hasil kemajuan teknologi informasi terutama media
cetak (buku, majalah, buletin, atau surat kabar) guna mendukung
transformasi visi dan misi Islam. Pengenyampingan atas semua persepsi
ini dapat menjadikan umat Islam terbawa dalam objek informasi yang
bersifat negatif. Di atas semua alasan itulah, upaya-upaya pemanfaatan
teknologi pers dan pematangan kemampuan menulis jurnalis Muslim
khususnya dan umat Islam umumnya, dalam rangka dakwah dan
transformasi nilai-nilai ajaran Islam menjadi suatu keharusan. Tuntutan
tersebut ditujukan untuk mengantisipasi agar umat tidak melek dan gagap
terhadap teknologi informasi (information technology IT).
Peranan pers dalam membentuk tatanan kehidupan masyarakat,
baik pada skala kolektif dan personal semakin gencar dipublikasikan.
Dunia jurnalistik gencar disoroti untuk memberikan proyeksi berita yang
berhaluan kepada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Pada konteks
inilah, generasi muda bangsa memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan
semangat para jurnalis muslim yang menjadikan jurnalistik Islam sebagai
ideologi dalam profesinya, baik mereka yang bekerja pada media massa
umum dan terlebih-lebih lagi pada media massa Islam.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ada
lima tingkatan materi dakwah yang akan disampaikan obyek dakwah:
1. Materi tingkatan kelompok pemula adalah materi yang
mengarah pada pembentukan kepribadian muslim.
2. Materi tingkatan kelompok pemuda adalah materi yang
mengarah pada pembentukan kepribadian Da`i.
3. Materi tingkatan kelompok madya adalah pendalaman
tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya, dan
menghafal ayat-ayat al-Qur`an dan mengkaji tentang tafsirnya.
4. Materi tingkatan kelompok ahli adalah pendalaman
tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya. Menambah
hafalan ayat-ayat al-Qur`an dan mengkaji tentang tafsirnya.
5. Materi tingkatan kelompok purna adalah pendalaman
tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya. Menambah
hafalan ayat-ayat al-Qur`an dengan mengkaji tentang tafsirnya dan menghafal
Hadits-Hadits Nabi.
Dengan demikian yang
membedakan kelompok madya, ahli dan purna adalah syaksiyah dan keilmuannya
serta hasil evaluasi dakwahnya.
- Media berasal
dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari Medium yang
secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
- Ada sembilan macam media yang
digunakan untuk berdakwah:
- Mimbar
- Media cetak
- Radio
- Film
- Televisi
- Celluler
- Lembaga pendidikan
- Organisasi keagamaan
- Partai politik
DAFTAR
PUSTAKA
- Nafis Abdul Wadud. 2009. Metode
Dakwah, Teori, dan Praktek. Jakarta: Mitra Abadi Press.
- Arifin Anwar. 2011. Dakwah
Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu.
- Sadiman Arief S. Dkk.
2010. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
- http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/komunikasi/article/view/434/459
[3] Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah
Studi Komunikasi, (Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011), hal.108.
[4] Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah
Studi Komunikasi, (Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011), hal.112.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar