awalan

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Minggu, 02 Desember 2018

TUGAS UAS MAKALAH SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI DAKWAH


MEDIA DAKWAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah: Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu: Mas’udi, S.Fil.I, MA,

 









Disusun Oleh:
1.      Hasanul falah muhammad (1740210052)                         





PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
JURUSAN DAKWAH DAN KOMUKIKASI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dakwah merupakan kegiatan yang mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu khusus berisi pesan berupa anjuran atau seruan tentang al-khyar, amar ma`ruf dan nahi munkar. Isi pesan yang berada di dalam dakwah itu bersumber dari wahyu Tuhan untuk menunjukan bahwa dakwah merupakan fenomena Agama yang tercakup dalam study Islam.
Dakwah juga mempunyai materi-materi yang di dalamnya menjelaskan tentang kandungan-kandungan dakwah yang akan di sampaikan seorang da`i dan juga menjelaskan tentang bagaimana proses berdakwah menurut tingkatannya.
Berkenaan dengan materi-materi dakwah , dakwah bukan hanya di sampaikan secara langsung kepada orang muslim. Di era zaman sekarang ini teknologi sudah semakin canggih sehingga memudahkan para da`i untuk dakwah menggunakan teknologi sesuai dengan situasi dan kondisinya sehingga akan mudah bagi orang muslim mendapatkan ilmu dari media. Dengan menggunakan media akan mendorong orang muslim untuk menyiarkan Agama dan ini akan membawa dampak positif khalayak terhadap penggunaan media untuk berdakwah. Menyimak dari pernyataan di atas, Penulis perlu mengangkat judul “Materi dan Media Dakwah”.

                            











B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan media?
2.      Ada berapa macam media yang digunakan untuk berdakwah?
3.      Islam dan media indonesia


C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari dakwah.
2.      Untuk mengetahui pengertian dari media.
3.      Untuk mengetahui media apa saja yang digunakan untuk berdakwah.
4.      Mengetahui Islam dan media indonesia.
















BAB II
                                                             PEMBAHASAN

  1. Pengertian Media
Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari Medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and Communication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.[2]




















  1. Macam-Macam Media yang digunakan untuk Berdakwah
Dakwah akan sukses apabila menggunaka bermacam-macam media sesuai situasi dan kondisi. Sedangkan media yang dapat dipergunakan sebagai berikut:








  1. Mimbar
Mimbar merupakan media dakwah yang paling populer dimasyarakat, baik masyarakat pinggiran maupun masyarakat perkotaan. Mimbar bisa digunakan pada saat khutbah Jum`at, Idul Fitri, Idul Adha dan pengajian-pengajian besar Islam lainnya baik di masjid-masjid kampung maupun di kota, bahkan di hotel-hotel atau di gedung-gedung. Tujuan khutbah dengan menggunakan mimbar adalah agar jama`ah dapat lebih fokus pada sutu pandangan. Mimbar biasanya di buat lebih tinggi dari lantai dengan tujuan agar penceramah bisa melihat secara langsung kepada jama`ah. Masjid-masjid besar biasanya menyediakan media elektronik diluar masjid, dengan tujuan agar jamah yang ada diluar masjid tetap dapat melihat yang berkhutbah. Model mimbar ada dua macam, yaitu:
  1. Mimbar bertangga (terbuka), biasanya yang berkhutbah membawa tongkat.
  2. Mimbar tidak bertangga (terbuka), biasanyapun yang berkhutbah tidak membawa tongkat.
  3. Media cetak
Media cetak pada era sekarang telah bermunculan, bagaikan buah rambutan yang sedang berbuah, baik itu majalah, koran, ataupun buletin-buletin lainnya. Hal ini merupakan wujud nyata dari sebuah era informasi dan keterbukaan. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika para muballigh mampu memanfaatkan media-media cetak yang ada sebagai sarana untuk berdakwah. Melihat persaingan media cetak yang begitu hebat, maka para muballigh hendaknya segera menyiapkan diri untuk menjadi penulis-penulis handal sehingga mampu bersaing dalam amar ma`ruf nahi munkar di bidang media cetak. Mengingat media cetak merupakan media informasi yang cukup banyak peminatnya. Media cetak yang berkembang selama ini lebih berpegang pada keterbukaan dan kebebasannya. Dan inilah problem besar bagi para pelaku dakwah selama ini.
  1. Radio
Radio adalah siaran atau pengiriman suara atau bunyi melalui udara. Segala sesuatu dapat disiarkan melalui radio, seperti berita, musik, pidato, puisi, drama, dan dakwah yang dapat didengar oleh masyarakat.
Siaran radio dapat diterima atau didengar bukan hanya oleh yang berpendidikan tinggi saja, tetapi oleh orang yang berpendidikan rendah. Radio mendapat banyak khalayak, terutama karena radio lebih banyak menghidangkan hiburan dan informasi yang aktual.[3]
Radio merupakan media informasi yang hingga sekarang nasih memiliki cukup banyak pemirsa. Mengingat radio merupakan alat informasi yang fleksibel, kecil dan dapat di bawa kemana-mana. Oleh sebab itu, alangkah bermanfaatnya jika radio penuh dengan siaran-siaran yang mengajak kepada pemirsa untuk menjalankan kebaikan serta meninggalkan keburukan (amar ma`ruf nahi munkar). Pesawat radio sering kali kita jumpai semalam suntuk di warung-warung kopi,pos-pos jaga serta mobil-mobil. Bahkan tidak jarang tukang becak selalu memutar radio sambil menunggu penumpang. Oleh sebab itu, alangkah bermanfaatnya jika radio-radio yang diputar selalu membawa pesan-pesan dakwah.
Para da`i atau muballigh dapat menyiarkan secara lengkap ceramah agama, khutbah saat sholat jum`at atau khutbah hari raya dua secara langsung ketika peristiwa berlangsung.
  1. Film
Film dikenal juga dengan nama “gambar hidup” atau “wayang gambar”. Film dapat memberikan pengaruh yang cukup besar kepada jiwa manusia yang sedang menyaksikannya. Disaat sedang menonton film, terjadi suatu gejala yang menurut ilmu jiwa sosial sebagai indentifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, penonton kerap menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang pemeran film. Melihat pengaruh film begitu besar kepada jiwa yang sedang menontonnya,maka alangkah besarnya manfaat film itu, jika dijadikan sebagai media untuk berdakwah.
  1. Televisi
Televisi adalah media penyiaran yang serumpun dengan radio. Jika radio hanya menyiarkan suara, maka televisi mampu menyalurkan suara dan gambar sekaligus, sehingga televisi dapat dipandang sebagai penggabung film dan radio. Televisi untuk menjadi media dakwah, atau menyalurkan pesan-pesan dakwah. Hal ini telan banyak dilakukan di Indonesia. Pada umumnya lembaga penyiaran televisi di Indonesia menyediakan waktu kegiatan dakwah, seperti adzan maghrib atau acara-acara khusus pada bulan ramadhan dan lain-lainnya. Televisi juga dapat bermanfaat sebagai media yang menyajikan dialog-dialog tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh umat Islam.[4]
Televisi merupakan media informasi sekaligus media hiburan yang dapat di jumpai di mana-mana, baik di rumah kecil maupun di rumah mewah, baik di warung-warung kopi maupun di restoran. Televisi merupakan media informasi yang bersifat netral.
Televisi juga merupakan media audio-visual, yang juga seing disebut sebagai media pandang dengar. Maksudnya, selain televisi dapat kita dengar juga bisa kita lihat secara langsung. Oleh sebab itu, alang besarnya jika televisi itu lebih banyak menyuguhkan siaran-siaran yang mampu merubah pemirsa dari kondisi yang tidak baik menjadi kondisi yang lebih baik.
  1. Celluler
Celluler merupakan media informasi yang cukup canggih dan gaul. Hal ini nampak dari begitu banyaknya pemakai celluler, mulai dri pengusaha kelas atas hingga pengusaha kelas bawah. Bahkan tidak sedikit para remaja dan pengangguranpun menggunakannya. Melihat begitu semaraknya celluler, alang besar manfaatnya jika celluler dimanfaatkan sebagai media dakwah. Yaitu dengan memanfaatkan fasilitas Multimedia Messaging Service(MMS) sebagai media untuk mengirim pesan-pesan normatif. Dengan ber-MMS kita dapat berdakwah dengan biaya murah.
  1. Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan merupakan sarana dalam rangka memberi pemahaman yang sempurna dan mendalam dalam masalah ajaran agama Islam, dan membina kader da`i yang betul-betul paham dan mengajarkan ajaran dengan lengkap, baik secara teori maupun secara praktek, mulai tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Di Indonesia banyak da`i yang berdakwah melalui lembaga pendidikan. Misalnya pondok pesantren atau sekolah-sekolah agama Islam, terutama lembaga formal yang berada di bawah naungan Departemen Agama.



  1. Organisasi keagamaan
Organisasi merupakan sarana memperjuangkan agama Islam, karena dapat memperjuangkan ajaran Islam secara terpogram dan sistimatis serta dapat menjangkau yang lebih leluasa. Di Indonesia berjuang melalui organisasi sangat efektif, karena dapat memperjuangkan hak-hak umat Islam dan dapat mempertahankan ajaran Islam sacara terorganisir, misalnya Nahdhatul Ulama`,Muhammadiyah dan Matla`ul Anwar.
  1. Partai Politik
Islam tidak akan bisa dilaksanakan secara kaffah (sempurna dan menyeluruh) tanpa mendirikan negara yang berdasarkan Islam. Sedangkan negara Islam tidak akan dapat didirikan tanpa menguasai parlemen, karena parlemen sebagai sarana membuat undang-undang dan peraturan pemerintah yang berdasarkan al-Qur`an dan Hadits. Sedangkan parlemen bisa dikuasai melalui partai politik. Maka oleh karena itu, salah satu sarana memperjuangkan ajaran Islam adalah melalui partai politik. Partai politik tidak akan mampu memperjuangkan ajaran Islam di parlemen, apabila visi dan misinya tidak berdasarkan Islam dan kader-kadernya tidak dididik secara Islami.




lagi, dari budaya sosial yang mereka miliki ini, masyarakat penuh keberanian untuk merawat ayam-ayam jago petarung dengan harga-harga yang sangat fantastis. Mulai dari harga lima puluh ribu rupiah sampai harga satu juta lima ratus ribu rupiah, mereka berani untuk tetap memiliki binatang peliharaan ini.
Sebuah keunikan lain yang bisa diamati dari kehidupan masyarakat Desa Jepang dengan budaya sosial yang berkembang di tengah-tengah kehidupan mereka adalah kesadaran keagamaan dan keberagamaan yang perlu mereka hadirkan dan upayakan eksis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Agama bagi kehidupan mereka masih menduduki tingkat sekunder atau bahkan tingkat paling rendah dari realitas kehidupan keagamaan dan keberagamaan masyarakat. Masyarakat masih belum memiliki tingkat kesadaran keagamaan dan keberagamaan yang tinggi guna menjadikan ketertataan hidup mereka lebih baik. Dinamika dari kondisi ini sebenarnya dapat diamati dari struktur kehidupan masyarakat Desa Jepang yang masih tergolong pragmatik dalam pemenuhan struktur kehidupan mereka. Ekonomi menjadi basic need absolut dengan kesadaran perolehannya yang berhaluan positivistik. Secara otomatis pula, kondisi ini menggiring mereka untuk menomorduakan agama dari realitas kehidupan. Agama belum dihadirkan oleh mereka sebagai salah satu sebab yang bisa mendukung nilai keberhasilan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan.


A.    Islam dan media indonesia
Dakwah sebagai media pembentuk kepribadian (self personality)
dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi
yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang
progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan
media dan strategi dakwah yang kompeten. Seiring dengan munculnya
ragam media dan strategi dakwah, eksistensi jurnalistik hadir sebagai
salah satu media komunikasi produktif. Di samping strategi dakwah
yang telah umum common sense dilakukan, kehadiran jurnalistik menjadi
media kontemporer yang dapat menyeimbangi perkembangan zaman
globalization yang semakin pesat. Kehadiran media jurnalistik dalam
dinamika kehidupan manusia menjadi fakta yang tidak terelakkan.
Eksistensi jurnalistik sebagai media utama penyajian komunikasi
dalam kehidupan umat manusia memiliki peranan yang signifian. Realita
ini dapat dilihat pada pencapaian kemerdekaan Indonesia. Beberapa
pejuang kemerdekaan Indonesia menggunakan jurnalisme sebagai alat
perjuangan. Di zaman penjajahan Belanda, beberapa media jurnalistik
terbit mengiringi jalannya perjuangan, seperti Bintang Timoer, Bintang
Barat, Java Bode, dan Medan Prijaji. Ketajaman eksistensi jurnalistik
semakin menguat ketika zaman pendudukan Jepang. Beberapa media
jurnalistik yang telah lama hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia
dilarang peredarannya. Akan tetapi, pada akhirnya ada lima media yang
AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam 217
Peranan Media Dalam Membentuk Sosio-Kultur dan Agama Masyarakat
mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari,
dan Suara Asia. Zaman Orde Baru pun memberikan potret yang
tajam atas peranan media jurnalistik terhadap kebijakan pemerintah.
Besarnya ancaman yang dimunculkan oleh eksistensi media jurnalistik
mengakibatkan dibredelnya beberapa surat kabar nasional, di antaranya;
Harian Indonesia dan Majalah Tempo.
Sejarah panjang Agama Islam pun memiliki kesinambungan
kuat atas eksistensi jurnalistik. Zaman Nabi Nuh As., adalah potret
pertama eksistensi jurnalisme Islam. Untuk mengetahui kondisi air
bah di sekeliling perahu, Nabi Nuh As., mengutus seekor Burung Dara
guna meneliti keberadaannya. Dari informasi Burung Dara tersebut,
disampaikannya berita tentang alam sekitar perahu. Potret jurnalisme
zaman Nabi Nuh As., tersebut dijadikan world view eksistensi jurnalistik.
Berdasarkan analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya,
jurnalistik Islam adalah suatu aktivitas yang terdiri dari proses meliput,
mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa (berita) ataupun
pendapat (ide, gagasan, opini) dengan muatan nilai-nilai keislaman
(kedakwahan) dengan didasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik/
norma-norma yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah Rasulullah
SAW.
Berpijak kepada eksistensi jurnalistik di atas, secara nyata
(de facto) jurnalistik diwujudkan untuk memberikan sumbangan
utama atas tatanan informasi kehidupan manusia. Kehadirannya di
masyarakat menjadi ruh yang tidak dapat dinisbikan dari dinamika
kehidupan. Secara hakiki, pesatnya arus globalisasi (globalization
movement) menuntut segenap generasi muda dan tua Indonesia untuk
menyongsongnya dengan cakrawala informasi dan teknologi yang
semakin luas. Perwujudan ini tidak mungkin dicapai secara sempurna
tanpa realisasi sinergis antara semua elemen bangsa. Pada dataran
inilah, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dan Sekolahsekolah Menengah dan Atas umumnya memiliki peranan signifian
guna mencetak generasi bangsa yang memiliki kompetensi pada setiap
unsur kehidupan berbangsa dan bernegara. Kompetensi yang memuat
218 Volume 1, Nomor 2, Juli – Desember 2013
Mas’udi
keterampilan sempurna diimbangi dengan penguasaan teknologi, seni,
budaya, dan nilai-nilai keberagamaan (tadayyun).
Besarnya peranan instansi pendidikan dalam membentuk
generasi bangsa yang berwawasan luas, dituntut untuk menyajikan
nuansa pembelajaran efektif di tengah-tengah pesatnya laju globalisasi.
Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang komunikasi dan
informasi (communication and information technology), membuat dunia terasa
makin sempit dan nyaris tak ada lagi ruang kosong yang tak terjamah
dan tersentuh oleh teropong informasi teknologi (information technology).
Kenyataan ini tentu saja menghendaki kehadiran jurnalis-jurnalis tangguh
yang mampu menghadirkan informasi, berita, atau tulisan-tulisan yang
bernuansa keislaman, melalui pemanfaatan dan rekayasa yang baik
terhadap berbagai hasil kemajuan teknologi informasi terutama media
cetak (buku, majalah, buletin, atau surat kabar) guna mendukung
transformasi visi dan misi Islam. Pengenyampingan atas semua persepsi
ini dapat menjadikan umat Islam terbawa dalam objek informasi yang
bersifat negatif. Di atas semua alasan itulah, upaya-upaya pemanfaatan
teknologi pers dan pematangan kemampuan menulis jurnalis Muslim
khususnya dan umat Islam umumnya, dalam rangka dakwah dan
transformasi nilai-nilai ajaran Islam menjadi suatu keharusan. Tuntutan
tersebut ditujukan untuk mengantisipasi agar umat tidak melek dan gagap
terhadap teknologi informasi (information technology IT).
Peranan pers dalam membentuk tatanan kehidupan masyarakat,
baik pada skala kolektif dan personal semakin gencar dipublikasikan.
Dunia jurnalistik gencar disoroti untuk memberikan proyeksi berita yang
berhaluan kepada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Pada konteks
inilah, generasi muda bangsa memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan
semangat para jurnalis muslim yang menjadikan jurnalistik Islam sebagai
ideologi dalam profesinya, baik mereka yang bekerja pada media massa
umum dan terlebih-lebih lagi pada media massa Islam.








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ada lima tingkatan materi dakwah yang akan disampaikan obyek dakwah:
1.      Materi tingkatan kelompok pemula adalah materi yang mengarah pada pembentukan kepribadian muslim.
2.      Materi tingkatan kelompok pemuda adalah materi yang mengarah pada pembentukan kepribadian Da`i.
3.      Materi tingkatan kelompok madya adalah pendalaman tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya, dan menghafal ayat-ayat al-Qur`an dan mengkaji tentang tafsirnya.
4.      Materi tingkatan kelompok ahli adalah pendalaman tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya. Menambah hafalan ayat-ayat al-Qur`an dan mengkaji tentang tafsirnya.
5.      Materi tingkatan kelompok purna adalah pendalaman tentang materi-materi yang sudah disampaikan pada tahapan sebelumnya. Menambah hafalan ayat-ayat al-Qur`an dengan mengkaji tentang tafsirnya dan menghafal Hadits-Hadits Nabi.
Dengan demikian yang membedakan kelompok madya, ahli dan purna adalah syaksiyah dan keilmuannya serta hasil evaluasi dakwahnya.
  1. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari Medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
  2. Ada sembilan macam media yang digunakan untuk berdakwah:
  3. Mimbar
  4. Media cetak
  5. Radio
  6. Film
  7. Televisi
  8. Celluler
  9. Lembaga pendidikan
  10. Organisasi keagamaan
  11. Partai politik




DAFTAR PUSTAKA
  • Nafis Abdul Wadud. 2009. Metode Dakwah, Teori, dan Praktek. Jakarta: Mitra Abadi Press.
  • Arifin Anwar. 2011. Dakwah Kontemporer. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Sadiman Arief S. Dkk. 2010. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
  • http://journal.stainkudus.ac.id/index.php/komunikasi/article/view/434/459

[1]Abdul Wadud Nafis, Metode Dakwah, (Mitra Abadi Press: Jakarta, 2009), hal.91-92.
[2]Arief S. Sadiman, dkk, Media Pendidikan, (Rajawali Pers: Jakarta, 2010), hal.6.
[3] Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi, (Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011), hal.108.
[4] Anwar Arifin, Dakwah Kontemporer Sebuah Studi Komunikasi, (Graha Ilmu: Yogyakarta, 2011), hal.112.


Jumat, 30 November 2018

NILAI-NILAI BERITA

      
1. MagnitudeSeberapa luas pengaruh suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang kenaikan harga BBM lebih luas pengaruhnya terhadap SELURUH masyarakat Indonesia ketimbang berita tentang gempa bumi di Jawa Tengah.
2. Significance Seberapa penting arti suatu peristiwa bagi khalayak
Contoh: Berita tentang wabah SARS lebih penting bagi khalayak; ketimbang berita tentang kenaikan harga BBM.

3. Actuality Yaitu tingkat aktualitas suatu peristiwa.
Berita tentang kampanye 
calon presiden sangat menarik jika dibaca pada tanggal 1 hingga 30 Juni 2004. Setelah itu, berita seperti ini akan menjadi sangat basi.

.4. Proximity Yaitu kedekatan peristiwa terhadap khalayak.
Contoh: Bagi 
warga Jawa Barat, berita tentang gempa bumi di Bandung lebih menarik ketimbang berita tentang gempa bumi di Surabaya.

5. Prominence, yaitu akrabnya peristiwa dengan khalayak. contoh: Berita-berita tentang Indonesian Idol lebih akrab bagi remaja Indonesia ketimbang berita-berita tentang Piala Thomas.
6. Kejelasan (clarity) , tentang kejadiannya.
7. Kejutan (surprise) .
8. Dampak (impact),  berapa banyak manusia terkena dampaknya, seberapa luas, dan untuk berapa lama?.

9. Konflik personal.
10. Human Interest yaitu kemampuan suatu peristiwa untuk menyentuh perasaan kemanusiaan khalayak. Contoh: Berita tentang nasib TKI Indonesia yang dianiaya di Malaysia, diminati khalayak, karena berita ini mengandung nilai human interesttinggi.
Bagian- bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering di dengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum terlebih dahulu baru ke hal khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian kurang atau tidak penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita.
Dengan selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek non factual yang pada kecenderungan akan menjadi sebuah opini.
Untuk itu, sebuah berita harus memuat “fakta” yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W+1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi.
Who – siapa yang terlibat di dalamnya?
What – apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
Where – di mana terjadinya peristiwa itu?
Why – mengapa peristiwa itu terjadi?
When – kapan terjadinya?
How – bagaimana terjadinya?

JURNALISTIK ISLAM

Jadi, jurnalistik Islami adalah upaya dakwah Islamiyah juga. Karena jurnalistik Islami bermisi ‘amar ma’ruf nahyi munkar, maka ciri khas jurnalistik Islami adalah menyebarluaskan informasi tentang perintah dan larangan Allah SWT.
Jurnalisme Islam menyampaikan pesan dan berusaha memengaruhi komunikan/khalayak, agar berperilaku sesuai dengan ajaran Islam.
Jurnalistik Islami tentu saja menghindari gambar-gambar ataupun ungkapan-ungkapan pornografis, menjauh­kan promosi kemaksiatan, atau hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti fitnah, pemutarbalikkan fakta, berita bohong, mendukung kemunkaran, dan sebagainya.
Jurnalistik Islami harus mampu mempengaruhi khalayak agar menjauhi kemaksiatan, perilaku destruktif, dan menawarkan solusi Islami atas setiap masalah.
Karena jurnalistik Islami adalah jurnalistik dakwah, setiap jurnalis (wartawan) Muslim berkewajiban menjadikan jurnalistik Islami sebagai “ideologi” dalam profesinya. Baik jurnalis Muslim yang bekerja pada media massa umum maupun –apalagi– pada media massa Islam. Karena dakwah memang merupakan kewajiban melekat dalam diri setiap Muslim.
Jurnalis Muslim memang akan sulit mengemban misinya atau mematuhi “ideologi jurnalistik Islami”-nya, jika ia bekerja pada media massa non-Islam, atau media yang jauh dari misi Islami, karena ia kemungkinan terbawa arus dan terkena kebijakan redaksional yang tidak committed akan nilai-nilai Islam.
Jurnalis Muslim adalah sosok jurudakwah (da’i) di bidang pers, yakni mengemban da’wah bil qolam (dakwah melalui tulisan). Ia adalah jurnalis yang terikat dengan nilai-nilai, norma, dan etika Islam.
Karena jurudakwah menebarkan kebenaran Ilahi, maka jurnalis Muslim laksana “penyambung lidah” para nabi dan ulama. Karena itu, ia pun dituntut memiliki sifat-sifat kenabian, seperti Shidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah.
  • Shidiq artinya benar, yakni menginformasikan yang benar saja dan membela serta menegakkan kebenaran itu. Standar kebenarannya tentu saja kesesuaian dengan ajaran Islam (al-Quran dan as-Sunnah).
  • Amanah artinya terpercaya, dapat dipercaya, karenanya tidak boleh berdusta, memanipulasi atau mendistorsi fakta, dan sebagainya.
  • Tabligh artinya menyampaikan, yakni menginformasikan kebenaran, tidak menyembunyikannya.
  • Fathonah artinya cerdas dan berwawasan luas. Jurnalis Muslim dituntut mampu menganalisis dan membaca situasi, termasuk membaca apa yang diperlukan umat.
Jurnalis Muslim bukan saja para wartawan yang bergama Islam dan comitted dengan ajaran agamanya, melainkan juga para cendekiawan Muslim, ulama, mubalig, dan umat Islam pada umumnya yang cakap menulis di media massa.

PENGERTIAN DAN SEJARAH JURNALISTIK

Pengertian atau definisi jurnalistik sangat banyak. Secara etimologi, jurnalistik berasal dari dua suku kata, yakni jurnal dan istik. Jurnal berasal dari bahasa Perancis, jounal, yang berarti catatan harian. Dalam bahasa Latin, juga ada kata yang hampir sama bunyi dan upacannya dengan journal yakni diurna, yang mengandung arti hari ini.
secara etimologis, jurnalistik dapat diartikan sebagai suatu karya seni dalam hal membuat catatan tentang peristiwa sehari-hari. Karya seni dimaksud memiliki nilai keindahan yang dapat menarik perhatian khalayaknya (pembaca, pendengar, pemirsa), sehingga dapat dinikmati dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.
Secara lebih luas, pengertian atau definisi jurnalistik adalah seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, dan perilaku khalayak sesuaia dengan kehendak para jurnalisnya. (Kustadi Suhandang, 2004 : 21)
Ada yang berpendapat bahwa Nabi Nuh, adalah orang pertama yang melakukan pencarian dan penyampaian berita.Dikisahkan bahwa pada waktu itu sebelum Allah SWT menurunkan banjir besar, maka diutuslah malaikat menemui dan mengajarkan cara membuat kapal laut sampai selesai kepada Nabi Nuh.Atas dasar fakta tersebut, para ahli sejarah menamakan Nabi Nuh sebagai seorang pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) yang pertama kali di dunia.Malah ada yang menyimpulkan bahwa Kantor Berita pertama di dunia adalah Kapal Nabi Nuh.
Dalam sejarah Kerajaan Romawi disebutkan bahwa Raja Imam Agung menyuruh orang membuat catatan tentang segala kejadian penting. Catatan itu dibuat pada annals (papan tulis yang digantungkan di serambi rumah raja). Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.Pengumuman sejenis itu dilanjutkan oleh Julius Caesar pada zaman kejayaannya.Julius Caesar mengumumkan hasil persidangan senat, berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya, dengan jalan menuliskannya pada papan pengumuman berupa papan tulis pada masa itu (60 SM).Papan tulis itu dikenal dengan nama acta diurna dan diletakkan di Forum Romanum (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Terhadap isi acta diurna tersebut setiap orang boleh membacanya, bahkan juga boleh mengutipnya untuk kemudian disebarluaskan dan dikabarkan ke tempat lain.Acta diurna itulah yang disebut-sebut sebagai cikal bakal lahirnya surat kabar harian.Seiring kemajuan teknologi informasi, maka yang bermula dari laporan harian maka tercetaklah menjadi surat kabar harian.Dari media cetak berkembang ke media elektronik, dari kemajuan elektronik terciptalah media informasi berupa radio.Tidak cukup dengan radio yang hanya berupa suara muncul pula terobosan baru berupa media audio visual yaitu TV (televisi).Media informasi tidak puas hanya dengan televisi, maka lahirlah internet, sebagai jaringan yang bebas dan tidak terbatas.

PEMROGRAMAN DASAR

ALGORITMA Program adalah kata, ekspresi, pernyataan yang disusun dan dirangkai menjadi satu kesatuan prosedur yang berupa urutan langkah untuk menyelesaikan masalah yang diimplementasikan dengan menggunakan bahasa pemrograman sehingga dapat dieksekusi oleh komputer. Bahasa Pemrograman adalah prosedur atau tata cara penulisan program. Pemrograman adalah proses mengimplementasikan urutan langkah untuk menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan suatu bahasa pemrograman. Tahapan-tahapan Problem Solving: 1. Memahami / menganalisis masalah 2. Merancang/merumuskan Algoritma 3. Membuat Flowchart 4. Menulis Program 5. Uji hasil Standar Program yang Baik: Program yang baik memiliki standar penilaian : 1. Standar Teknik Pemecahan Masalah a. Teknik Top-Down b. Teknik Bottom-Up 2. Standar Penyusunan Program a. Kebenaran logika dan penulisan b. Waktu minimum untuk penulisan program c. Kecepatan maksimum eksekusi program d. Ekspresi penggunaan memori e. Kemudahan merawat & mengembangkan program f. User friendly g. Portability h. Pemrograman Modular 3. Standar Perawatan Program a. Dokumentasi b. Penulisan Instruksi 4. Standar Prosedur PENGERTIAN ALGORITMA Algoritma adalah kumpulan instruksi-instruksi/perintah–perintah/langkah-langkah yang berhingga jumlahnya yang digunakan untuk menyelesaikan masalah/persoalan logika dan matematika dengan bantuan komputer Tahap-tahap Pemrograman : I. Fase Problem Solving II. Fase Implementation Fase I Fase II Fase Problem Solving Hal-hal yang harus diketahui dalam analisis masalah : 1. Kondisi awal 2. Kondisi akhir 3. Data lain yang tersedia 4. Operator yang tersedia 5. Syarat / kendala yang harus dipenuhi Ciri-ciri algoritma yang baik : 1. Precise 2. Jumlah langkah/step berhingga dan tertentu 3. Efektif 4. Harus terminate 5. Output yang dihasilkan tepat Test Dipilih data-data yang bisa, dan juga yang ekstrem Fase Implementation 1. Pembuatan Program 2. Dokumentasi PENYAJIAN ALGORITMA Algoritma disajikan dengan tulisan dan gambar. Algoritma yang disajikan dengan tulisan yaitu dengan struktur bahasa tertentu dan pseudocode, sedangkan yang disajikan dengan gambar, misalnya dengan flowchart. Contoh kasus : 1. Algoritma untuk mencari rata-rata dari 3 bilangan yang diinputkan a. Algoritma dengan struktur bahasa Indonesia 1. Baca bilangan a, b, dan c 2. Jumlahkan ketiga bilangan tersebut 3. Bagi jumlahnya dengan 3 4. Tulis hasilnya b. Algoritma dengan pseudocode Input (a,b,c) Jml  a+b+c Rerata  Jml/3 Output (Rerata) c Algoritma dengan flowchart 2. Algoritma untuk mencari luas lingkaran a. Algoritma dengan struktur bahasa Indonesia 1. Beri nilai phi dengan 3.14 2. Masukkan jari-jari lingkaran 3. Kalikan phi dengan kuadrat dari jari-jarinya 4. Tulis hasilnya b. Algoritma dengan pseudocode phi  3.14 Input (R) L  phi * R^2 Output (L) c Algoritma dengan flowchart FLOWCHART Flowchart (bagan alir) adalah suatu bagan yang menggambarkan/mempresentasikan suatu algoritma/prosedur untuk menyelesaikan masalah. Flowchart ada dua macam : 1. Flowchart system Yaitu bagan yang menggambarkan suatu prosedur dan proses suatu file dalam suatu media menjadi file dalam media yang lain dalam suatu sistem data. Simbol yang digunakan : Contoh : : pita magnetik : keyboard : storage : input/output : proses : magnetic tape : arah proses 2. Flowchart program Yaitu bagan yang menggambarkan urutan logika dari suatu prosedur pemecahan masalah. Simbol yang digunakan : : (terminal symbol), menunjukkan awal dan akhir dari program : (preparation symbol), memberikan niai awal pada suatu variabel atau counter : (processing symbol), menunjukkan pengolahan aritmatika dan pemindahan data : (input/output symbol), menunjukkan proses input atau output : (decision symbol), untuk mewakili operasi perbandingan logika : (predefined process symbol), proses yang ditulis sebagai sub program, yaitu prosedur/ fungsi : (connector symbol), penghubung pada halaman yang sama : (off page connector symbol), penghubung pada halaman yang berbeda : arah proses STRUKTUR DASAR ALGORITMA Struktur dasar algoritma ada tiga, yaitu : 1. Sequence Structure (struktur runtunan) Digunakan untuk program yang instruksinya sequential/urutan. 2. Selection Structure (struktur percabangan) Digunakan untuk program yang menggunakan pilihan/penyeleksian kondisi. F T 3. Repetition Structure (struktur perulangan) Digunakan untuk program yang instruksinya akan dieksekusi berulang-ulang. F T

EL CLASSICO

EL CLASSICO
Kemenangan 3-1 MADRID atas musuh bebuyutanya BARCELONA pada duel el classico yang berlangsung di estadio SANTIAGO BERNEBU semakin mempermudah REAL MADRID untuk memuncaki klasement la liga.